Bagian filsafatnya menyentuh
Tidak menyangka buku sejarah bisa membuat saya merenung tentang diri sendiri. Bab tentang amanah saya baca berulang.
Kehendak Berpemerintahan Sendiri (Zelfbestuur 1916) — Jilid I Tetralogi Islam Bernegara
“Sebelum kata “Indonesia” lahir sebagai nama negara, sudah ada kehendak untuk mengurus diri sendiri. Ia diucapkan di Bandung, Juni 1916, dengan satu kata Belanda: zelfbestuur.”
Buku ini menempatkan titik nol sejarah Islam bernegara di Indonesia bukan pada proklamasi mana pun, melainkan pada sebuah kongres. Pada Juni 1916, Nationaal Indisch Congres (NATICO) I di Bandung merumuskan sesuatu yang belum pernah dinyatakan sekeras itu di hadapan pemerintah kolonial: kehendak berpemerintahan sendiri.
Dari sana, penulis menelusuri bagaimana kehendak itu tumbuh — dari kesadaran dagang Sarekat Dagang Islam 1905, menjadi kesadaran keumatan Sarekat Islam 1912, lalu mengeras menjadi tuntutan politik pada 1916. Yang dibaca bukan hanya peristiwa, melainkan pergeseran bahasa: kapan “kesejahteraan” berubah menjadi “pemerintahan”, dan kapan “pemerintahan” berubah menjadi “kedaulatan”.
Ditulis dengan pendekatan sanad — menanyakan siapa mewariskan gagasan kepada siapa, melalui dokumen apa, dan dengan penafsiran ulang seperti apa. Dilengkapi kutipan notulen kongres, terbitan sezaman, dan lampiran kronologi 1905–1926.
Buku ini terdiri atas 312 halaman. Pratinjau gratis mencakup 6 halaman pertama.
| SKU | NAH-001 |
|---|---|
| Judul | Titik Nol |
| Penulis | Nunu A. Hamijaya |
| Penerbit | PUSBANGTER, Jatinangor |
| Tahun terbit | 2018 |
| ISBN | 978-623-3139-25-5 |
| Jumlah halaman | 312 halaman |
| Bahasa | Indonesia |
| Format | PDF (digital) |
| Ukuran berkas | 1.0 MB |
| Batas unduh | 5 kali, berlaku 1 tahun sejak pembelian |
Tidak menyangka buku sejarah bisa membuat saya merenung tentang diri sendiri. Bab tentang amanah saya baca berulang.
Kronologi dan daftar dokumen di belakang buku itu harta karun. Saya jadikan titik awal riset skripsi.
Saya pakai bagian modul auditnya untuk kelas. Murid-murid akhirnya berdebat dengan argumen, bukan dengan emosi.
Bukan bacaan sekali duduk. Tapi tiap bab meninggalkan sesuatu yang terus terpikir sampai beberapa hari.
Kontestasi kedaulatan dan transformasi konfigurasi negara Indonesia, 1945–1950 — Jilid IV
Piagam Jakarta, 57 hari, dan kalimat yang dicoret — Jilid II Tetralogi Islam Bernegara
Revolusi Islam Bernegara di Indonesia, 1916–1962 — Jilid III Tetralogi Islam Bernegara