Berat temanya, ringan bahasanya
Saya bukan mahasiswa sejarah, tapi tetap bisa mengikuti. Istilah asing selalu dijelaskan waktu pertama kali muncul.
Siapa yang menentukan apa yang kita ingat sebagai sejarah
“Sejarah bukan hanya apa yang terjadi, melainkan apa yang dipilih untuk dicatat, diajarkan, dan diperingati. Selebihnya menjadi sunyi.”
Buku ini memperkenalkan politik historiografi sebagai alat baca: bukan menanyakan “apa yang terjadi”, melainkan “bagaimana pengetahuan tentang yang terjadi itu diproduksi”.
Pembaca diajak melihat rantai produksi sejarah dari hulu ke hilir — arsip yang disimpan dan yang dimusnahkan, penelitian yang didanai dan yang tidak, kurikulum yang disusun, monumen yang didirikan, sampai hari peringatan yang ditetapkan. Di setiap simpul itu ada pilihan, dan setiap pilihan punya pemilik.
Dibahas pula tiga gejala yang sering luput: historical erasure (penghapusan aktor dari narasi), methodological nationalism (menjadikan bangsa sebagai satuan analisis yang seolah abadi), dan pemakaian sejarah sebagai sumber legitimasi kekuasaan.
Ditulis untuk pembaca umum, mahasiswa, dan guru sejarah — dengan contoh-contoh dari sejarah Indonesia yang dekat dan mudah diperiksa.
Buku ini terdiri atas 268 halaman. Pratinjau gratis mencakup 6 halaman pertama.
| SKU | NAH-005 |
|---|---|
| Judul | Politik Historiografi |
| Penulis | Nunu A. Hamijaya |
| Penerbit | PUSBANGTER, Jatinangor |
| Tahun terbit | 2024 |
| ISBN | 978-623-5949-14-1 |
| Jumlah halaman | 268 halaman |
| Bahasa | Indonesia |
| Format | PDF (digital) |
| Ukuran berkas | 1.0 MB |
| Batas unduh | 5 kali, berlaku 1 tahun sejak pembelian |
Saya bukan mahasiswa sejarah, tapi tetap bisa mengikuti. Istilah asing selalu dijelaskan waktu pertama kali muncul.
Selama ini saya mengira sejarah itu daftar peristiwa. Setelah buku ini, saya jadi bertanya siapa yang menyusun daftarnya.
Nyaman dibaca di tablet, catatan kakinya bisa diklik, dan pratinjaunya membuat saya yakin sebelum membeli.
Nyaman dibaca di tablet, catatan kakinya bisa diklik, dan pratinjaunya membuat saya yakin sebelum membeli.
Bukan bacaan sekali duduk. Tapi tiap bab meninggalkan sesuatu yang terus terpikir sampai beberapa hari.
Kontestasi kedaulatan dan transformasi konfigurasi negara Indonesia, 1945–1950 — Jilid IV
Piagam Jakarta, 57 hari, dan kalimat yang dicoret — Jilid II Tetralogi Islam Bernegara