Rujukannya bisa ditelusuri
Yang membuat saya tenang membacanya: setiap klaim disertai dokumen. Saya sempat mengecek dua di antaranya ke arsip dan cocok.
Manusia, ilmu, kekhalifahan
“Amanah melahirkan ilmu, ilmu melahirkan kekhalifahan, kekhalifahan melahirkan peradaban. Ketika satu mata rantai putus, yang tersisa hanya kekuasaan.”
Buku ini menyusun sebuah rantai: manusia menerima amanah, amanah menuntut ilmu, ilmu memungkinkan kekhalifahan, kekhalifahan menghasilkan peradaban, peradaban membentuk umat, umat meninggalkan sejarah, sejarah melahirkan negara, dan negara menentukan masa depan.
Bukan skema yang rapi untuk dihafal, melainkan alat untuk memeriksa di mana rantai itu putus. Penulis berargumen bahwa banyak kemunduran tidak terjadi karena kekurangan sumber daya, melainkan karena satu mata rantai dilewati — biasanya ilmu, kadang amanah.
Bagian akhir menghubungkan kerangka ini dengan pekerjaan historiografis penulis: bahwa membaca masa lalu dengan jujur adalah syarat untuk menulis masa depan yang tidak mengulang kesalahan yang sama.
Menjadi jembatan antara seri filsafat Al-Qur’an dan seri politik historiografi dalam karya penulis.
Buku ini terdiri atas 286 halaman. Pratinjau gratis mencakup 6 halaman pertama.
| SKU | NAH-009 |
|---|---|
| Judul | Dari Amanah ke Peradaban |
| Penulis | Nunu A. Hamijaya |
| Penerbit | PUSBANGTER, Jatinangor |
| Tahun terbit | 2026 |
| ISBN | 978-623-1052-28-4 |
| Jumlah halaman | 286 halaman |
| Bahasa | Indonesia |
| Format | PDF (digital) |
| Ukuran berkas | 1.0 MB |
| Batas unduh | 5 kali, berlaku 1 tahun sejak pembelian |
Yang membuat saya tenang membacanya: setiap klaim disertai dokumen. Saya sempat mengecek dua di antaranya ke arsip dan cocok.
Kronologi dan daftar dokumen di belakang buku itu harta karun. Saya jadikan titik awal riset skripsi.
Saya bukan mahasiswa sejarah, tapi tetap bisa mengikuti. Istilah asing selalu dijelaskan waktu pertama kali muncul.
Selama ini saya mengira sejarah itu daftar peristiwa. Setelah buku ini, saya jadi bertanya siapa yang menyusun daftarnya.
Kontestasi kedaulatan dan transformasi konfigurasi negara Indonesia, 1945–1950 — Jilid IV
Piagam Jakarta, 57 hari, dan kalimat yang dicoret — Jilid II Tetralogi Islam Bernegara
Siapa yang menentukan apa yang kita ingat sebagai sejarah