Berat temanya, ringan bahasanya
Saya bukan mahasiswa sejarah, tapi tetap bisa mengikuti. Istilah asing selalu dijelaskan waktu pertama kali muncul.
Membaca ulang konsep kenegaraan Indonesia dan disjungsi konstitusional 1945–2002
“Apakah republik hari ini masih republik yang sama dengan yang disahkan pada 18 Agustus 1945? Pertanyaan ini bukan tuduhan, melainkan audit.”
“Cacat bawaan” di sini bukan vonis hukum, melainkan hipotesis historiografis. Buku ini menguji ketegangan antara gagasan dasar pendirian negara, teks konstitusi 1945, praktik kekuasaan yang berjalan, dan perubahan konstitusional pada 1999–2002.
Penulis memperkenalkan istilah disjungsi konstitusional: keadaan ketika terjadi perubahan mendasar antara desain konstitusional satu periode dan periode berikutnya, tetapi dinarasikan seolah-olah merupakan kelanjutan yang identik. Akibatnya, perdebatan publik sering memakai kosakata lama untuk membicarakan bangunan yang sudah berbeda.
Dibahas kedaulatan rakyat dan pergeseran peran MPR, transformasi lembaga negara, naiknya partai politik sebagai aktor konstitusional, serta pertanyaan tentang checks and balances yang belum selesai.
Ditutup dengan tawaran yang mengejutkan lembut: bahwa mengakui disjungsi justru menyehatkan republik, bukan meruntuhkannya.
Buku ini terdiri atas 304 halaman. Pratinjau gratis mencakup 5 halaman pertama.
| SKU | NAH-010 |
|---|---|
| Judul | Cacat Bawaan Republik |
| Penulis | Nunu A. Hamijaya |
| Penerbit | PUSBANGTER, Jatinangor |
| Tahun terbit | 2026 |
| ISBN | 978-623-1681-62-8 |
| Jumlah halaman | 304 halaman |
| Bahasa | Indonesia |
| Format | PDF (digital) |
| Ukuran berkas | 1.0 MB |
| Batas unduh | 5 kali, berlaku 1 tahun sejak pembelian |
Saya bukan mahasiswa sejarah, tapi tetap bisa mengikuti. Istilah asing selalu dijelaskan waktu pertama kali muncul.
Penulis tidak memaksa pembaca setuju. Ia hanya membuka dokumen dan mempersilakan kita menilai sendiri.
Penulis tidak memaksa pembaca setuju. Ia hanya membuka dokumen dan mempersilakan kita menilai sendiri.
Saya bukan mahasiswa sejarah, tapi tetap bisa mengikuti. Istilah asing selalu dijelaskan waktu pertama kali muncul.
Selama ini saya mengira sejarah itu daftar peristiwa. Setelah buku ini, saya jadi bertanya siapa yang menyusun daftarnya.
Kontestasi kedaulatan dan transformasi konfigurasi negara Indonesia, 1945–1950 — Jilid IV
Piagam Jakarta, 57 hari, dan kalimat yang dicoret — Jilid II Tetralogi Islam Bernegara
Siapa yang menentukan apa yang kita ingat sebagai sejarah